Kebahagiaan datang dan pergi,
seperti kesedihan.
Slalu tiba-tiba, tanpa bertanya dulu.
Cinta... begitulah awal dan akhirnya.
Terkadang karenanya kita merasa paling beruntung, tapi juga merasa paling bodoh.
Merasa dekat dan ingin memiliki hatinya, itulah penderitaan.
Cinta dan beribu alasannya membuat kita tenang sekaligus galau.
Kenapa harus ada pertemuan, kalau ternyata ada perpisahan?
Kenapa tak bahagia slamanya saja, seperti dalam dongeng-dongeng percintaan.
Kenapa harus ada mimpi-mimpi semu dan harapan terpatahkan.
Kenapa tak Kau buat cerita ber-happy ending
Tak ada luka
Tak ada pedihnya
Tak ada patah hati
Kemudian yang ada (hanyalah) senyum bahagia.
Bukankah Adam dan Hawa tercipta untuk sehidup semati?
Bagaimana dengan manusia-manusia lain yang Kau ciptakan.
Bukankah lebih baik berpasang-pasangan daripada hidup sendiri.
Apakah bedanya sebuah tangis dan tawa bahagia dari tiap manusia-manusia itu.
Kenapa Kau membuatnya berbeda-beda?
“disini ketika smua tertawa, hanya dia yang menangis...
lalu ketika smua menangis, hanya dia yang tertawa”
ah... dunia berlalu dengan angkuhnya.
Harus ada penyesalan di ujung cerita, kemudian senyum sinis di hatinya.
Begitu kejam, katanya.
Manusia dan ke’Tuhan’annya hanya sebagian perjalanan nasib dari putaran waktu
yang kejam dan menyedihkan.
Membingungkan.
Seperti tak mampu berhenti,
meski hanya untuk mendesah.
09:55, 11 Feb 06
Kadang aku bosan bermimpi
Yang kutemui hanya dia dan masa lalu yang menggambar sendu
Mimpi hanya semacam bualan ketika dahaga atas kehidupan tak terjawab
Mimpi yang tak jujur berkata resah, meski hatinya sedang galau
Mimpi yang kau namai pun tampak semu
Jadilah kudapati bahwa mimpi membuatku bosan
Maka, ketika mimpi menyebut pagi...
Aku tersenyum (lagi)
Kopi
:aku benci kopi malam hari yang membawa anganku larut dalam rasa tentangmu
bahwa disana kau pun peduli pada malam dan kegelisahannya
dan disinilah kita memaknai cinta...
Ingin rasanya keluar dari partikel-partikel diri bernama Aku. Sudah jenuh. Apalagi ketika kudapati semakin penat hari ke depan yang memaksaku menjadi ‘topeng’ kehidupan. Sudah kubilang, aku tak suka. Heran. Masih saja orang-orang itu memaksa. Apa hebatnya aku? Itulah pertanyaan yang memaksa sebuah jawaban logis keluar dari mulutnya. Kemudian pagi, adalah ketika Dia menjawab semua keresahan yang timbul akibat kebodohan dan kenaifan orang-orang di sekelilingku.
Disini
aku
Menatap biru laut dan langit itu
Mengapa sunyi
Mengapa resah
Dimana gaduh itu
Membunuh waktu dan sepi
Aku dan dia
Ada yang hilang
Ada yang tak sempat diucapkannya untukku
Laut, langit, dan dia
Adalah cerita sore itu
090208
Selalu ada saat tersenyum
Selalu ada saat berbagi
Selalu ada kamu disana
Kamu menjadi bagian yang sangat penting
Kamu menjadi satu yang aku nanti
Kamu dan cerita milik kita
Adalah perjalanan waktu yang tak pernah sepi
Terimakasih, teman =)
seperti lelah di hatinya
ada selembar kisah tentang pedih yang tak mampu
diceritakannya pada malam
meski bulan dan bintang saling berbisik
juga memaksanya berkeluh kesah
kata Bintang, "ceritakanlah pada kami kesedihanmu itu."
kata Bulan, "janganlah resah, sayang. kami disini untukmu.
namun dia tetap tak mau mengurai hatinya pada bulan juga bintang
meski mereka adalah sahabatnya
"biar saja sedih ini milikku. aku tak mau membagi gelisah."
lalu dia pergi dan menghilang
ada yang melihatnya turun ke bumi.
riuh
resah
rindu
lalu mati karna terlalu lama menahan rasa.
Bermimpilah kekasih
Bermimpilah bersama keheningan ini
Rindukan ketidaknyataan dan cintailah sepi
Lalu kita menikmati bahagia yang diciptakan para bidadari
Untuk kita
Menangis
Mengais
Air mata itu palsu
Aku menyadarinya ketika dia tak lagi memanggilku dengan sebutan “sayang...”

on ketika mimpi menyebut pagi