KEMUDIAN PAGI
Ingin rasanya keluar dari partikel-partikel diri bernama Aku. Sudah jenuh. Apalagi ketika kudapati semakin penat hari ke depan yang memaksaku menjadi ‘topeng’ kehidupan. Sudah kubilang, aku tak suka. Heran. Masih saja orang-orang itu memaksa. Apa hebatnya aku? Itulah pertanyaan yang memaksa sebuah jawaban logis keluar dari mulutnya. Kemudian pagi, adalah ketika Dia menjawab semua keresahan yang timbul akibat kebodohan dan kenaifan orang-orang di sekelilingku.
