- Next »
- « Previous
Tanya Pada Tuhan
Kebahagiaan datang dan pergi,
seperti kesedihan.
Slalu tiba-tiba, tanpa bertanya dulu.
Cinta... begitulah awal dan akhirnya.
Terkadang karenanya kita merasa paling beruntung, tapi juga merasa paling bodoh.
Merasa dekat dan ingin memiliki hatinya, itulah penderitaan.
Cinta dan beribu alasannya membuat kita tenang sekaligus galau.
Kenapa harus ada pertemuan, kalau ternyata ada perpisahan?
Kenapa tak bahagia slamanya saja, seperti dalam dongeng-dongeng percintaan.
Kenapa harus ada mimpi-mimpi semu dan harapan terpatahkan.
Kenapa tak Kau buat cerita ber-happy ending
Tak ada luka
Tak ada pedihnya
Tak ada patah hati
Kemudian yang ada (hanyalah) senyum bahagia.
Bukankah Adam dan Hawa tercipta untuk sehidup semati?
Bagaimana dengan manusia-manusia lain yang Kau ciptakan.
Bukankah lebih baik berpasang-pasangan daripada hidup sendiri.
Apakah bedanya sebuah tangis dan tawa bahagia dari tiap manusia-manusia itu.
Kenapa Kau membuatnya berbeda-beda?
“disini ketika smua tertawa, hanya dia yang menangis...
lalu ketika smua menangis, hanya dia yang tertawa”
ah... dunia berlalu dengan angkuhnya.
Harus ada penyesalan di ujung cerita, kemudian senyum sinis di hatinya.
Begitu kejam, katanya.
Manusia dan ke’Tuhan’annya hanya sebagian perjalanan nasib dari putaran waktu
yang kejam dan menyedihkan.
Membingungkan.
Seperti tak mampu berhenti,
meski hanya untuk mendesah.
09:55, 11 Feb 06
