Sering bertanya-tanya pada diri sendiri. Kalo benar reinkarnasi itu ada, saya akan tetap menjadi saya atau saya akan sibuk mencari jati diri baru??
Memaknai AKU adalah bagian tersulit, lebih sulit dari soal matematika. AKU ngga tahu apa yang salah dengan ‘jati diri’. . Aku tidak sedang mencarinya, hanya ingin tahu kalau seandainya AKU bukanlah AKU yang kamu kenal sekarang. Lalu?? AKU ogah bernegosiasi dengan waktu, repot-repot mencari keAKUan yang mungkin berceceran di hidupmu, hidupnya, hidup mereka. Biarkan saja orang lain ta menerima AKU, toh AKU ngga peduli
Mengadulah pada langit. Pada laut. Pada batu. Pada mimpi. Maka kamu akan mampu mengurai indah pada setiap nyawa di ujung sana. Lalu saat kamu terbangun, mimpimimpi itu tak lagi kosong. Menarilah bersama enggan harinya, maka kamu temukan sedikit cinta disana. Meski terperih kar’na angkuhnya, namun dia begitu sempurna sebagai seorang Adam.
Biarkan jiwamu bebas. Sebebas langit, seluas lautan. Maka kamu menikmati indah, indah yang abstrak.
Mimpimimpi terangkai sempurna. Menyatu dalam jiwamu. Lalu kamu menjadi Yang Maha. Entah pada dimensi apa.
Tak ada lagi cerita yang sendu tentang hari yang biru. Kamu kini adalah realita dari sebab yang ta tahu mulanya.
Ingin keluar dari raga ini, lalu menjadi kamu. Aku rindu malam yang akan membawaku pergi dari sini. Aku ingin kamu. Tapi rindu ini tak tersampaikan. Mengapa bimbang, mengapa resah. Adakah kamu juga menginginkan bintang di langit sana?
Seperti terperih aku sendiri. Lalu menangis tanpa sebab. Ada yang hilang, tapi apa. Jiwa ini terlalu kaku mengakuinya. Kamu hanya satu dari banyak hati yang kupuja. Lalu kenapa kamu pergi?
Senja tak banyak bicara. Membisu seperti kamu. Aku dibuatnya kalut. Seperti merindu yang tak nyata, lalu berangan sempurna. Tentang pagi, tentang malam yang sepi. Kamu ada, namun tiada. Kamu dimana?
Aku mencari namun tak kutemukan. Aku mencinta, namun kosong yang kudapat. Ada yang salah dengan malam, sebab bintang tak mau bersinar. Ada yang hampa di hariku, sebab kini tak kutemukan lagi senyum itu.
Kubiarkan langit dan laut beradu. Mereka kesal melihatku murung, selalu menanti kamu di ujung sana. Seharusnya aku tahu aku mencinta yang salah. Namun kamu terlalu sempurna untuk sebuah penyesalan.
Ada yang ingin, ada yang pergi. Sebuah hati menangis, namun yang lain tertawa angkuh. Kemana sang pujaan hati. Aku rindu ada, namun tiada.
Malam berkata lirih, seolah tak ada aku disana. Aku hanya bagian metamorfosa sebuah mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata. Lalu dengan sedikit lelah, mencoba menantang langit sekali lagi. Berharap malaikat maut tak membawaku. Aku teramat takut menjadi mati. Aku ingin mati raga, namun bukan jiwaku.
Disinilah aku bersama haru. Dan biru menyapaku. Aku hanya terbuai pada angan yang entah. Aku rela menjadi siapa, tapi bukan aku. Terlalu takut menjadi aku.
Hidup adalah tentang aku dan kamu. Setiap detik adalah mimpi, mimpi yang indah namun bukan untukku. Kamu tercipta sempurna, dan aku memujamu kini. Lalu bintang timur berkata lain. Kamu dibawanya pergi, dan tak pernah kembali.
Menangislah dalam jiwa, lalu terbanglah dalam mimpimu yang tersisa. Masih ada esok dimana yang terlihat kini hanya gelapnya. Cinta akan datang membawa mimpi yang sempurna. Untukmu dan untukku.
Coba liat ke awan-awan dan bayangkan sesuatu.
Bayangkan seseorang yang kamu cintai.
Bayangkan cinta yang kamu miliki bersamanya,
“apakah kamu bahagia?”
ahh...saya hanya merindukan sesuatu yang abstrak.
Partikel-partikel di otak saya ini sudah mengisyaratkan tanda-tanda bahaya.
Artinya...
SAYA PERLU OTAK BARU
Jangan hiraukan.
Hati ini hanya merasa gelisah sesaat.
Besok juga sudah hilang.
Maka, ijinkan aku untuk lewat dan mampir barang sebentar saja.
