Kopi
:aku benci kopi malam hari yang membawa anganku larut dalam rasa tentangmu
bahwa disana kau pun peduli pada malam dan kegelisahannya
dan disinilah kita memaknai cinta...
Ingin rasanya keluar dari partikel-partikel diri bernama Aku. Sudah jenuh. Apalagi ketika kudapati semakin penat hari ke depan yang memaksaku menjadi ‘topeng’ kehidupan. Sudah kubilang, aku tak suka. Heran. Masih saja orang-orang itu memaksa. Apa hebatnya aku? Itulah pertanyaan yang memaksa sebuah jawaban logis keluar dari mulutnya. Kemudian pagi, adalah ketika Dia menjawab semua keresahan yang timbul akibat kebodohan dan kenaifan orang-orang di sekelilingku.
Disini
aku
Menatap biru laut dan langit itu
Mengapa sunyi
Mengapa resah
Dimana gaduh itu
Membunuh waktu dan sepi
Aku dan dia
Ada yang hilang
Ada yang tak sempat diucapkannya untukku
Laut, langit, dan dia
Adalah cerita sore itu
090208
Selalu ada saat tersenyum
Selalu ada saat berbagi
Selalu ada kamu disana
Kamu menjadi bagian yang sangat penting
Kamu menjadi satu yang aku nanti
Kamu dan cerita milik kita
Adalah perjalanan waktu yang tak pernah sepi
Terimakasih, teman =)
seperti lelah di hatinya
ada selembar kisah tentang pedih yang tak mampu
diceritakannya pada malam
meski bulan dan bintang saling berbisik
juga memaksanya berkeluh kesah
kata Bintang, "ceritakanlah pada kami kesedihanmu itu."
kata Bulan, "janganlah resah, sayang. kami disini untukmu.
namun dia tetap tak mau mengurai hatinya pada bulan juga bintang
meski mereka adalah sahabatnya
"biar saja sedih ini milikku. aku tak mau membagi gelisah."
lalu dia pergi dan menghilang
ada yang melihatnya turun ke bumi.
riuh
resah
rindu
lalu mati karna terlalu lama menahan rasa.
Bermimpilah kekasih
Bermimpilah bersama keheningan ini
Rindukan ketidaknyataan dan cintailah sepi
Lalu kita menikmati bahagia yang diciptakan para bidadari
Untuk kita
Menangis
Mengais
Air mata itu palsu
Aku menyadarinya ketika dia tak lagi memanggilku dengan sebutan “sayang...”
menarinari dalam putaran waktu
menanti cinta dan keajaibannya
menyenandungkan rindu berharap Sang Dewi Cinta menemuiku
lalu kami bercerita tentang keindahan masa remaja
mengharubiru layaknya putri yang kesepian
begitulah ketika cinta hanya bersemi di tepian hati
sendiri dan resah
menikmati resah bersama heningnya malam
kau tau aku tak mampu menghadirkan bayangmu
kar'na kini aku hanya
mencintai sepi
Perempuan
Menghitung sepi di tiap harinya
Memaksa tiap inci tubuhnya
Menikmati galau yang datang lalu pergi
Memberi pilu
Perempuan
Mampu merajai hati laki-laki
Namun ta kuasa pada resah yang hadir
Setiap malamnya
Perempuan
Mencoba (sekali lagi) tersenyum meski terluka
Mencoba berjalan walau sedikit pincang
Mencoba bermimpi lagi
Dia tak peduli pada mereka yang memberi perih
Dia tak peduli pada mereka yang mencuri bahagia
Dia hanya peduli pada sedikit sepi, galau, pilu, resah dan mimpi,
Kar’na (hanya) itu yang dia punya.
